IMPLEMENTASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM MENINGKATKAN KUALIFIKASI GURU

Latar Belakang

Peranan guru sangat menentukan dalam usaha peningkatan mutu pendidikan Untuk itu guru sebagai agen pembelajaran dituntut untuk mampu menyelenggarakan proses pembelajaran dengan sebaik-baiknya, dalam kerangka pembangunan pendidikan. Guru mempunyai fungsi dan peran yang sangat strategis dalam pembangunan bidang pendidikan, dan oleh karena itu perlu dikembangkan sebagai profesi yang bermartabat. Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 4 menyiratkan bahwa guru sebagai agen pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Untuk dapat melaksanakan fungsinya dengan baik, guru wajib untuk memiliki syarat tertentu, salah satu di antaranya adalah kompetensi. Syarat kompetensi tersebut, yang meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional dijadikan dasar dalam makalah ini. Selanjutnya dalam makalah ini kompetensi guru yang dibahas hanya meliputi kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional karena ke dua kompetensi tersebut terkait dengan teknologi pendidikan.

Bertolak dari ketentuan perundangan (PP No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan), dapat dikatakan bahwa mutu pendidikan nasional dapat terwujud bila ke delapan standar minimal, yaitu standar isi, standar proses, sandar kompetensi lulusan, standar pendidikan dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan dapat dipenuhi. Mengingat bahwa hakekat teknologi pendidikan adalah proses untuk meningkatkan nilai tambah dalam pendidikan, maka makalah ini akan lebih banyak menyoroti standar proses.

Peningkatan mutu pendidikan dalam era pembangunan yang bersifat global, mau tidak mau kita harus mempertimbangkan hasil kajian empirik di negara maju sebagai masukan dalam menentukan mutu pendidikan, sebab kalau tidak, maka masyarakat dan bangsa Indonesia akan terpuruk dalam percaturan global. Keberhasilan pembangunan suatu masyarakat, dilihat dari indikator ekonomi, ditentukan oleh mutu sumber daya manusianya, bukan ditentukan oleh kekayaan sumber alam. Sumber daya manusia yang bermutu tidak ada begitu saja, tetapi harus melalui suatu proses pendidikan, yang juga harus bermutu tinggi. Para pemimpin negara dan masyarakat seringkali tidak menyadari bahwa pendidikan yang bermutu menjadi fundamen dari pembangunan ekonomi. Sumberdaya manusia yang terdidik dengan baik akan mampu berkarya; karya tersebut menghasilkan produk dan/atau jasa yang dapat dijual dan karena itu dapat diperoleh penghasilan yang layak; penghasilan dapat dibelanjakan untuk membeli produk atau jasa lain; dengan pembelajaan penghasilan dan meningkatnya produk dan/atau jasa maka ekonomi akan berkembang.

 

Kualitas Pendidikan

Secara konseptual mutu pendidikan diartikan secara beragam, tergantung pada situasi dan lingkungan. Asosiasi Pendidikan Nasional Amerika Serikat (National Education Association of the United State) merumuskan enam kunci untuk keunggulan (keys to exellence) yang dijabarkan lebih lanjut menjadi 35 indikator kualitas satuan pendidikan (indicators of a quality school). Keenam kunci keunggulan tersebut adalah: (1) pemahaman bersama dan komitmen terhadap tujuan yang tinggi, (2) komunikasi terbuka dan kolaborasi dalam memecahkan masalah, (3) penilaian belajar dan pembelajaran secara terus menerus, (4) belajar pribadi dan profesional, (5) sumber-sumber  untuk menunjang belajar dan pembelajaran, serta (6) kurikulum dan pembelajaran (http://www.nea.org/schoolquality/index.html)

Menurut Hoy, et al. (2000), yang dimaksud dengan mutu pendidikan adalah suatu evaluasi atas proses mendidik yang dapat meningkatkan kebutuhan untuk mengembangkan dan membina bakat dari peserta didik, proses pendidikan itu sendiri, dan bersamaan dengan itu memenuhi standar akuntabilitas yang ditetapkan oleh mereka yang bertanggung jawab membiayai dan menerima lulusan pendidikan. Pendapat tersebut memperkuat pendapat bahwa ke tiga pihak yang berkepentingan perlu merumuskan kesepakatan bersama.

Secara umum mutu pendidikan dapat dikatakan gambaran mengenai baik-buruknya hasil yang dicapai oleh siswa dalam proses pendidikan yang dilaksanakan. Lembaga pendidikan dianggap bermutu bila berhasil mengubah tingkah laku anak-didik dikaitkan dengan tujuannya pendidikannya. Mutu pendidikan sebagai sistem selanjutnya tergantung pada mutu komponen yang membentuk sistem, serta proses yang berlangsung hingga membuahkan hasil.

Konsep mutu pendidikan menurut pendapat saya mengandung lima rujukan, yaitu kesesuaian, daya tarik, efektivitas, efisiensi dan produktivitas[1]. Yang merupakan ciri dari kesesuaian ini antara lain adalah sepadan dengan karakteristik peserta didik, serasi dengan aspirasi masyarakat maupun perorangan, cocok dengan kebutuhan masyarakat, sesuai dengan kondisi lingkungan, selaras dengan tuntutan zaman, dan sesuai dengan teori, prinsip, dan/atau nilai baru dalam pendidikan. Kesesuaian mengandung ciri adanya: (1) kesepadanan dengan karakteristik peserta‑didik perorangan maupun kelompok, yaitu aspek‑aspek atau kualitas seperti bakat, motivasi, dan kemampuan yang telah dimiliki oleh peserta‑didik; (2) keserasian dengan aspirasi perorangan maupun masyarakat; (3) kecocokan dengan kebutuhan masyarakat baik yang sifatnya normatif, proyektif, ekspresif, maupun komparatif; (4) kesesuaian dengan kondisi lingkungan, yang dapat meliputi budaya, sosial, politik, ekonomi, teknologi, dan wilayah; (5) keselarasan dengan tuntutan zaman yaitu misalnya untuk belajar lebih banyak, lebih cepat, dan terus‑menerus sepanjang hayat; (6) ketepatan dengan teori, prinsip dan/atau nilai baru dalam bidang pendidikan, yaitu misalnya belajar menyelidik (inquiry learning), belajar memecahkan masalah, belajar mandiri, belajar penguasaan, belajar struktur bidang studi dan lain sebagainya.

Pendidikan yang bermutu juga harus mempunyai daya tarik yang kuat, meliputi di antaranya:  (1) sarana pendidikan yang tersebar dan karena itu mudah dicapai dan diikuti; (2) isi pendidikan yang mudah dicerna karena telah diolah sedemikian rupa; (3) kesempatan yang tersedia yang dapat diperoleh siapa saja pada setiap saat diperlukan; (4) pesan yang diberikan pada saat dan peristiwa yang tepat (just-in-time = JIT, bukan just-in-case = JIC = sekiranya diperlukan);  (5) keterandalan (accountability) yang tinggi, terutama karena kinerja (performance) lembaga dan lulusannya yang menonjol; (6) keanekaragaman sumber, baik yang dengan sengaja dikembangkan maupun yang sudah tersedia dan dapat dipilih serta dimanfaatkan untuk kepentingan belajar; dan (7) suasana yang akrab, hangat, dan merangsang.

Efektivitas pendidikan seringkali diukur dengan tercapainya tujuan, atau dapat pula diartikan sebagai ketepatan dalam mengelola suatu situasi  (doing the right things). Pengertian ini mengandung ciri: (1) bersistem (sistematik), yaitu dilakukan secara teratur atau berurutan melalui tahap perencanaan, pengembangan, pelaksanaan, penilaian, dan penyempurnaan; (2) sensitif terhadap kebutuhan akan tugas belajar dan kebutuhan pemelajar; (3) kejelasan akan tujuan dan karena itu dapat dihimpun usaha untuk mencapainya; dan (4) bertolak dari kemampuan atau kekuatan mereka yang bersangkutan (peserta didik, pendidik, masyarakat dan pemerintah).

Efisiensi pendidikan dapat diartikan sebagai kesepadanan antara waktu, biaya, dan tenaga yang digunakan dengan hasil yang diperoleh atau disebut pula sebagai doing the things right (mengerjakan sesuatu dengan benar). Ciri yang terkandung meliputi: (1) merancang kegiatan pembelajaran berdasarkan model yang mengacu pada kepentingan, kebutuhan dan kondisi peserta didik; (2) pengorganisasian kegiatan belajar dan pembelajaran yang rapi, seperti misalnya lingkungan atau latar yang diperhatikan, pemanfaatan berbagai sumber daya dengan pembagian tugas seimbang, dan pengembangan dan pemanfaatan aneka sumber belajar sesuai keperluan; (3) usaha inovatif yang merupakan penghematan, seperti misalnya pem-belajaran jarak-jauh, pembelajaran terbuka tanpa harus membangun gedung dan mengangkat tenaga pendidik yang digaji secara tetap; (4) mempertimbangkan berbagai faktor internal maupun eksternal (sistemik) untuk  menyusun alternatif tindakan dan kemudian memilih tindakan yang paling menguntungkan. Sistem SMP Terbuka misalnya telah dirancang dengan memperhatikan kepentingan peserta didik, pendayagunaan narasumber antara lain sebagai guru pamong, serta tidak membangun gedung sekolah dan mengangkat guru tetap sehingga biaya unit penyelenggaraannya dihemat sebesar 20%.

Produktivitas kegiatan pendidikan berarti bahwa proses dan hasilnya bertambah. Proses yang bertambah karena secara konseptual siapa saja, kapan saja dan dimana saja dapat mengakses pelajaran. Hasil yang bertambah, (lulusan, karya tulis, penelitian), dapat diperoleh tanpa harus menambah jumlah masukan (misalnya tambahan biaya), atau tanpa pertambahan masukan namun dengan hasil yang lebih banyak; atau dengan tambahan masukan sedikit tetapi pertambahan hasilnya lebih besar; atau pertambahan masukan yang banyak dengan hasil yang jauh lebih banyak lagi.

Dalam prinsip ekonomi diketahui bahwa hubungan antara mutu dan biaya tidak selalu berjalan secara linear. Peningkatan biaya sedikit dengan pendekatan baru dan/atau efisiensi dapat meningkatkan mutu atau produktivitas. Demikian pula investasi awal yang memerlukan biaya tinggi dapat menyebabkan perbaikan mutu yang relatif murah dalam jangka panjang. Sebaliknya, biaya yang tinggi tidak menjamin mutu yang baik. Sedangkan mutu yang baik selalu memerlukan biaya yang tidak murah. Sekarang ini sedang terjadi gejala komersialisasi pendidikan, dengan orientasi yang berlawanan. Di satu pihak menawarkan pendidikan yang mudah dan murah dengan  menjual ijazah. Sedangkan di pihak lain menawarkan biaya yang tinggi dengan sarana yang mewah dan berkiblat internasional.

Menurut pendapat Deming (Jenkins, 1996)  pendidikan merupakan suatu sistem dengan tujuh komponen yang harus ada dan saling berkaitan. Ke tujuh komponen tersebut adalah: (1) tujuan (aims); (2) pelanggan (customers); (3) persediaan (supplies);  (4) masukan (input); (5) proses; (6) keluaran (output); dan (7) ukuran kualitas (quality measurement). Deming menyatakan bahwa tujuan umum pendidikan adalah meningkatkan hal-hal yang positif, mengurangi hal-hal yang negatif sehingga setiap peserta didik bergairah untuk belajar. Yang dimaksudkan dengan pelanggan adalah para peserta didik terutama yang menjadi subyek dalam program wajib belajar, meskipun termasuk pula peserta didik lain seperti mahapeserta didik dan warga belajar dewasa. Yang dimaksudkan dengan persediaan adalah anak usia prasatuan pendidikan yang sudah memperoleh pendidikan dari orangtua, media, gereja (tempat ibadah), dan tempat bermain. Masukan meliputi di antaranya peraturan, anggaran, kurikulum, dan kebutuhan akan tenaga kerja. Proses merupakan kunci untuk menghasilkan mutu; proses ini merupakan usaha mengkoordinasikan desain dari tiap komponen yang lain. Keluaran bukan hanya mereka yang lulus satuan pendidikan dan dapat meneruskan ke jenjang perguruan tinggi, melainkan juga termasuk putus satuan pendidikan, Ukuran kualitas tidak hanya dilakukan oleh satuan pendidikan melainkan juga oleh pelanggan dan para pemangku kepentingan (stakeholders).

Konsep tentang mutu pendidikan dengan demikian juga diartikan secara berbeda‑beda, tergantung pada situasi, kondisi dan sudut pandang. Pada awal kemerdekaan dahulu, adanya kesempatan satuan pendidikan bagi kebanyakan warga sudah dianggap sesuatu yang bermutu, karena sebelumnya kesempatan itu tidak ada atau sangat terbatas. Sekarang ini, sesuai dengan perkembangan budaya dan teknologi, pendidikan atau pembelajaran yang tidak memberikan kesempatan mengenal dan memanfaatkan teknologi informasi, dianggap kurang bermutu.

Perbedaan sudut pandang didasarkan pada pendapat bahwa dalam proses pendidikan ada tiga unsur yang berkepentingan. Yang pertama adalah pemerintah dan/atau yayasan bagi pendidikan swasta yang menentukan aturan pengelolaan (termasuk anggaran dan tatalaksana); kedua adalah peserta didik yang memperoleh manfaat dari pendidikan; dan ketiga adalah masyarakat, termasuk orangtua, yang memperoleh manfaat dari tersedianya lulusan atau hasil dari proses pendidikan. Ketiga sudut pandang ini ada kemungkinan berbeda dalam mengartikan mutu proses pendidikan.

Ditinjau dari sudut pandang proses pendidikan, yang dimaksud dengan kualitas memiliki pengertian sesuai dengan makna yang terkandung dalam siklus proses pendidikan tersebut. Secara ringkas dapat disebutkan beberapa kata kunci pengertian kualitas, yaitu: sesuai standar (fitness to standard), sesuai penggunaan pasar/pelanggan (fitness to use), sesuai perkembangan kebutuhan terakhir (fitness to latest requirements), dan sesuai lingkungan global (fitness to global environmental requirements).[2] Adapun yang dimaksud kualitas sesuai dengan standar, yaitu jika salah satu aspek dalam pengelolaan pendidikan itu sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Pengertian kualitas sesuai dengan penggunaan pasar/pelanggan (stakeholders), jika apa yang dihasilkan sudah sesuai dengan pelanggan pada saat melakukan ”transaksi.” Di dalam pendidikan, ”pelanggan” mencakup pihak-pihak yang lebih luas termasuk siswa, orang tua, masyarakat, pemerintah, dan pemerintah daerah. Kualitas sesuai dengan perkembangan kebutuhan berarti bahwa output pendidikan yang dihasilkan benar-benar langsung diminati oleh konsumen (dalam hal ini stakeholders). Kualitas sesuai lingkungan global mengandung arti bahwa konsep ini menghasilkan output pendidikan yang mampu melestarikan sumber daya alam sehingga lingkungan terjaga dari kerusakan.

Kualitas  pendidikan sebagai sistem selanjutnya tergantung pada kualitas komponen yang membentuk sistem, serta proses yang berlangsung hingga membuahkan hasil. Secara umum dapat dikatakan kualitas pendidikan adalah kesesuaian dengan standar yang ditentukan. Keseluruhan komponen dan standar tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar diatas sekaligus merupakan representasi dari  Standar Nasional Pendidikan seperti ditetapkan dalam PP No. 19 Tahun 2005.

Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa standar kualitas yang harus dipenuhi oleh guru sebagai pendidik adalah memenuhi ketentuan Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Isi dan Standar Proses Pembelajaran.

 

Kualitas Guru

Secara singkat dapat dikatakan bahwa guru yang berkualitas atau yang ber – kualifikasi, adalah yang memenuhi standar pendidik, menguasai materi/isi pelajaran sesuai dengan standar isi, dan menghayati dan melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan standar proses pembelajaran. Kriteria-kriteria tersebut telah dirumuskan dalam ketentuan perundangan, yaitu UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, UU Guru dan Dosen No. 14 Tahun 2005, PP No. 19 Tentang Standar Nasional Pendidikan dan serangkaian  Keputusan Menteri Pendidikan Nasional (dalam makalah ini Keputusan Mendiknas yang digunakan terutama adalah Kepmen No. 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah).

Berdasarkan pengkajian konseptual kualitas guru dibuktikan dengan kompetensinya dalam melaksanakan tugas sebagai seorang pendidik. Kompetensi didefinisikan oleh Lefrancois,[3] sebagai kapasitas untuk melakukan sesuatu, yang dihasilkan dari proses belajar. Selama proses belajar stimulus akan bergabung dengan isi memori dan menyebabkan terjadinya perubahan kapasitas untuk melakukan sesuatu. Apabila individu sukses mempelajari cara melakukan satu pekerjaaan yang kompleks dari sebelumnya, maka pada diri individu tersebut pasti sudah terjadi perubahan kompetensi. Perubahan kompetensi tidak akan tampak apabila selanjutnya tidak ada kepentingan atau kesempatan untuk melakukannya. Dengan demikian bisa diartikan bahwa kompetensi adalah berlangsung lama yang menyebabkan individu mampu melakukan kinerja tertentu.

Konsep mengenai kompetensi utama bergantung pada tiga kriteria dasar, yakni, bahwa kompetensi utama: (1) berkontribusi pada hasil yang memiliki nilai yang tinggi pada tataran individu dan sosial dalam hal kehidupan yang berhasil dan masyarakat yang berfungsi seutuhnya, (2) merupakan instrumen untuk menghadapi tuntutan dan tantangan yang kompleks dan berarti berdasarkan spektrum  konteks yang luas, dan (3) merupakan hal yang penting bagi semua individu.[4] Individu berpartisipasi di dalam beberapa rangkaian aktivitas yang berbeda. Jelas bahwa untuk bekerja dengan baik dan berhasil seseorang membutuhkan kompetensi dari ranah yang berbeda atau kompetensi dasar tertentu. Namun demikian, fokus terletak pada kompetensi yang dianggap sebagai instrumen untuk mengatasi tuntutan sosial dan individual yang cukup penting di dalam konteks spektrum yang lebih luas. Dengan demikian, kompetensi utama bertujuan untuk menghasilkan seseorang yang mampu melangkah dan berpatisipasi secara efektif dalam bidang sosial, seperti sektor ekonomi, kehidupan politik, hubungan sosial dan keluarga, hubungan interpersonal yang bersifat pribadi dan hubungan masyarakat, dan bidang kesehatan. Ini berarti bahwa kompetensi utama bukan hanya spesifik untuk satu bidang; melainkan  bersifat  transversal  dalam  artian bahwa kompetensi dapat diterapkan pada

berbagai bidang kehidupan.

Kompetensi adalah sesuatu yang mengalami perkembangan dari waktu ke waktu melalui usaha. Perkembangan dari kompetensi dari waktu ke waktu tersebut adalah kesempatan untuk menumbuhkan keyakinan, kebanggaan, dan minat.[5] Mengembangkan kompetensi digambarkan sebagai proses yang berkelanjutan dari didapatnya dan konsolidasi suatu keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk kinerja. Selanjutnya menurut Usman terkait dengan pengertian kompetensi dasar menunjukkan tingkat kompetensi elementer, tingkat kinerja seseorang secara umum dan mendasar sebagai syarat minimal atau kualifikasi awal untuk dikuasai oleh seorang pemula.[6]

Hal yang berbeda dikemukan oleh Cowell,[7] yang mendefinisikan kompetensi secara lebih spesifik sebagai suatu keterampilan/kemahiran yang bersifat aktif. Selanjutnya kompetensi oleh Cowell dikategorikan mulai dari tingkat sederhana atau dasar hingga lebih sulit atau kompleks yang pada gilirannya akan berhubungan dengan proses penyusunan bahan atau pengalaman belajar, yang lazimnya terdiri dari: (1) penguasan minimal kompetensi dasar, (2) praktik kompetensi dasar, dan (3) penambahan penyempurnaan atau pengembangan terhadap kompetensi atau keterampilan.[8] Ketiga proses tersebut dapat terus berlanjut selama masih ada kesempatan untuk melakukan penyempurnaan atau pengembangan kompetensinya. Gagasan pembagian tersebut berdasarkan perbedaan-perbedaan individu yang berkenaan dengan pengalaman, kebutuhan, perhatian dan kompetensi setiap individu untuk memutuskan penguasaan taraf atau tingkat kompetensi mana dia akan mencoba menguasainya.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kompetensi merupakan satu kesatuan yang utuh yang menggambarkan potensi, pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dinilai, yang terkait dengan profesi tertentu berkenaan dengan bagian-bagian yang dapat diaktualisasikan dan diujudkan dalam bentuk tindakan atau kinerja untuk menjalankan profesi tertentu. Sedangkan bertolak dari UU No.14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, setiap guru harus menguasai serangkaian kompetensi. Dalam makalah ini dibatasi hanya dua kompetensi saja, yaitu kompetensi pedagogik dan profesional, yang dapat dijabarkan sebagai berikut :

Kompetensi Pedagogik, adalah kemampuan mengelola pembelajaran siswa yang meliputi pemahaman terhadap siswa, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan siswa untuk mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya, terinci ke dalam rumusan kompetensi sebagai berikut: (1) memahami karakteristik siswa, (2) memahami karakteristik siswa dengan kelainan fisik, sosial-emosional dan intelektual yang membutuhkan penanganan secara khusus, (3) memahami latar belakang keluarga dan masyarakat untuk menetapkan kebutuhan belajar siswa dalam konteks kebhinekaan budaya, (4) memahami cara dan kesulitan belajar siswa, (5) mampu mengembangkan potensi siswa, (6) menguasai prinsip-prinsip dasar pembelajaran yang mendidik, (7) mengembangkan kurikulum yang mendorong keterlibatan siswa dalam pembelajaran, (8) merancang pembelajaran yang mendidik, (9) melaksanakan pembelajaran yang mendidik, dan (10) menilai proses dan hasil pembelajaran yang mengacu pada tujuan utuh pendidikan.

Kompetensi Profesional, adalah penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing siswa untuk memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan, terinci ke dalam rumusan kompetensi sebagai berikut: (1) menguasai secara luas dan mendalam substansi dan metodologi dasar keilmuan, (2) menguasai materi ajar dalam kurikulum, (3) mampu mengembangkan kurikulum dan pembelajaran, secara kreatif dan inovatif, (4) menguasai dasar-dasar materi kegiatan ekstra kurikuler yang mendukung tercapainya tujuan utuh pendidikan siswa, (5) mampu menilai dan memperbaiki pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas.

Dalam lampiran makalah ini ada format asesmen mengenai kompetensi pedagogik dan profesional guru, yang dikembangkan oleh Tim Pengkaji Kompetensi Duru dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan yang dipimpin oleh Staf Ahli Mendiknas Bidang Mutu Pendidikan. Format asesmen tersebut mengacu pada apa yang terurat dan tersirat dalam PP No. 19 Tahun 2005, juga memasukkan bebrapa indikator dari kajian konseptual. Silahkan menilai diri sendiri, seberapa jauh ke dua kompetensi tersebut telah dikuasai dan dlaksanakan.

 

Standar Proses Pembelajaran

Berdasarkan ketentuan PP No. 19 Tahun 2005 yang kemudian diikuti dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 41 Tahun 2007, standar proses pembelajaran harus meliputi perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.

Perencanaan proses pembelajaran harus didasarkan pada prinsip sistematis dan sistemik. Sistematik berarti secara runtut dan berkesinambungan, dan sistemik dengan mempertimabngan segala komponen yang berkaitan. Perencanaan proses tersebut sekurang-kurangnya meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat identitas mata pelajaran, standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan sumber belajar. Perencanaan itu perlu disusun secara sistemik dan sistematis. Sistemik karena perlu mempertimbangkan berbagai faktor yang berkaitan, yaitu tujuan yang perlu meliputi semua aspek perkembangan peserta didik (kognitif, afektif da psikomotor), karakteristik peserta didik, karakteristik materi ajar yang meliputi fakta, konsep, prosedur dan prinsip, kondisi lingkungan serta hal-hal lain yang menghambat atau menunjang terlaksananya pembelajaran. Sistematis karena perlu disusun secara runtut, terarah dan terukur, mulai jenjang kemampuan rendah hingga tinggi.

Pelaksanaan proses pembelajaran harus didasarkan pada prinsip terjadinya interaksi secara optimal antara peserta didik dengan pendidik, antara peserta didika sendiri, serta peserta didik dengan aneka sumber belajar termasuk lingkungan. Untuk itu perlu diperhatikan jumlah maksimal peserta didik dalam setiap kelas agar dapat berlangsung interaksi yang efektif. Rombongan belajar di SD/MI 28 peserta didik per kelas; SMP?MTs 32; SMA/MA 32; dan SMK/MAK 32. Kecuali itu harus pula diperhatikan beban pembelajaran maksimal per pendidik dalam satu satuan pendidikan, yaitu sekurang-kurangnya 24 jam tatp muka dalam satu minggu. Ketersediaan buku teks pelajaran dengan rasio setiap peserta didik perlu memilikinya satu set. Selain buku teks, guru juga harus menggunakan buku panduan guru, buku pengayaan, buku referensi dan sumber belajar lainnya. Budaya membaca dan menulis harus pula dikembangkan  dalam proses pembelajaran, yang dapat menumbuhkan masyarakat yang gemar membaca, dan mampu mengekpresikan pikiran dalam bentuk tertulis.

Pelaksanaan proses pembelajaran perlu mempertimbangkan karakteristik peserta didik dan kemampuan pengelolaan kegiatan belajar. Mengingat bahwa proses pembelajaran bukan hanya sekedar menyampaikan ajaran, melainkan juga pembentukan pribadi peserta didik  yang memerlukan perhatian penuh dari pendidik, maka pendidik perlu mengenal masing-masing pribadi peserta didik dan oleh karena itu jumlahnya dibatasi. Pelaksaan pproses pembelajaran merupakan implementasi dari RPP, dan meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan pebnutup.

Penilaian dilakukan oleh guru terhadap hasil pembelajaran untuk mengukur tingkat pencapaian kompetnsi peserta didik, serta digunakan sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan belajar dan memperbaiki proses pembelajaran. Penilaian dilaksanakan secara konsisten, sistematik, dan terprogram dengan menggunakan tes dan nontes dalam bentuk tertulis atau lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, portofolio, dan penilaian diri. perlu ditentukan dengan menggunakan berbagai teknik penilaian sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai  oleh peserta didik. Perlu pula dikembangkan tatacara penilaian secara individual dengan melalui observasi, yang dilakukan sekurang-kurangnya sekali dalam satu semester. Pengakuan atas belajar yang telah dilakukan peserta didik sebelumnya (accreditation of prior learning) perlu juga diberikan sebagai suatu bentuk pendidikan yang terbuka dan multimakna. Penilaian juga harus dilakukan atas segala aspek perkembangan peserta didik, termasuk kecerdasan dengan segala dimensinya, sikap dan kemampuan motorik. Penilaian hasil pembelajaran menggunakan Standar penilaian Pendidikan dan Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran.

Pengawasan proses pembelajaran merupakan bentuk jaminan mutu pembelajaran, dan ditujukan untuk menjamin terjadinya proses pembelajaran yang efektif dan efisien kearah tercapainya kompetensi yang ditetapkan. Pengawasan perlu didasarkan pada prinsip-prinsip tanggung jawab bersama, periodik, demokratis, terbuka,  dan keberlanjutan. Pengawasan meliputi  pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan, dan pengambilan langkah tindak lanjut yang diperlukan. Tatacara dan prosedur pengawasan ini pada hakekatnya merupakan tanggung jawab bersama semua pihak yang terkait, sesuai dengan ketentuan tentang hak, kewajiban Warga Negara, orangtua, masyarakat, dan pemerintah.

 

Penerapan Teknologi Pendidikan

            Secara konseptual teknologi (semua teknologi termasuk teknologi pembelajaran) secara umum. adalah :

  • proses yang meningkatkan nilai tambah;
  • produkyang dihasilkan untuk mempermudah pekerjaan;
  • struktur atau sistem dimana proses dan produk itu dikembangkan dan  digunakan.

Teknologi pendidikan telah berkembang sebagai suatu disiplin keilmuan yang berdiri sendiri. Perkembangan tersebut dilandasi oleh serangkaian dalil atau dasar yang dijadikan patokan pembenaran. Secara falsafaf, dasar keilmuan  itu meliputi : ontologi atau rumusan tentang gejala pengamatan yang dibatasi pada suatu pokok telaah khusus yaitu masalah belajar; epistemologi yaitu usaha atau prinsip intelektual yang bersifat unik dalam memecahkan masalah belajar, dengan berbagai pendekatan yang belum dilakukan sebelumnya; dan aksiologi atau nilai-nilai yang menentukan kegunaan dari proses maupun produk dalam pemecahan masalah belajar, dengan mempertimbangkan  nilai moral atau etika dan nilai seni dan keindahan atau estetika.

Teknologi pendidikan berusaha memecahkan masalah belajar dengan meng-gunakan  pendekatan yang memenuhi enam persyaratan, yaitu :

  1. Pendekatan isomeristik, yaitu yang menggabungkan berbagai kajian/bidang keilmuan (psikologi, komunikasi, ekonomi, manajemen, rekayasa teknik dsb.) ke dalam suatu kebulatan tersendiri;
  2. Pendekatan sistematik , yaitu dengan cara yang berurutan dan terarah dalam usaha memecahkan persoalan;
  3. Pendekatan sinergistik, yaitu yang menjamin adanya nilai tambah dari keseluruhan kegiatan dibandingkan dengan bila kegiatan itu dijalankan sendiri-sendiri, dan
  4. Sistemik, yaitu pengkajian secara menyeluruh
  5. Inovatif, yaitu menemukan dan melaksanakan sesuatu yang baru dan tidak sekedar mengulang atau menambah yang sudah ada
  6. Integratif, yaitu meleburkan diri atau menjadi bagian integral dari sistem pendidikan.

Usaha khusus dengan pendekatan inilah yang merupakan azas epistemologi teknologi pendidikan.

Secara konseptual teknologi pendidikan didefinisikan sebagai : : teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, penilaian dan penelitian proses, sumber dan sistem untuk belajar. Definisi tersebut  digambarkan sebagai berikut :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2 : Definisi Teknologi Pendidikan

(diadaptasi dari Seels & Richey, 1994)

            Teknologi pendidikan merupakan suatu disiplin terapan, artinya ia berkembang karena adanya kebutuhan di lapangan, yaitu kebutuhan untuk belajar – belajar lebih efektif, lebih efisien, lebih banyak, lebih luas, lebih cepat dan sebagainya. Untuk itu ada produk yang sengaja dbuat dan ada yang ditemukan dan dimanfaatkan. Namun perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang sangat pesat akhir-akhir ini dan menawarkan sejumlah kemungkinan yang semula tidak terbayangkan, telah membalik cara berpikir kita dengan  “bagaimana mengambil manfaat teknologi tersebut untuk mengatasi masalah belajar.

Dalam lingkungan pendidikan sekolah penerapan teknologi pendidikan pada awalnya disebut dengan istilah ”didaktik dan metodik”. Namun karena masalah belajar tidak hanya dalam di lingkungan sekolah, melainkan dimana saja, mengenai apa saja, dari dan oleh siapa saja, dengan cara apa saja, maka lahirlah teknologi pendidikan.  Pada awal perkembangan sekitar ratusan tahun yang lalu teknologi itu dikenal sebagai cara mengajar dengan menggunakan alat peraga hasil buatan sendiri oleh guru di sekolah. Tigapuluh tahun kemudian (sekitar th. 1930) penggunaan alat peraga itu berkembang dengan diproduksinya secara massal media belajar-pengajaran untuk digunakan di sekolah secara meluas.

Penerapan teknologi pendidikan untruk memecahkan masalah belajar dapat berlangsung secara mikro maupun makro. Secara mikro apabila masalah belajar iitu ada dalam lingkungan terbatas misalnya dalam kelas atau sekolah. Proses pembelajaran yang dikembangkan oleh guru dalam kelas, merupakan penerapan teknologi pendidikan secara mikro. Sedangkan secara makro adalah pemecahan masalah belajar secara menyeluruh, yaitu yang meliputi semua komponen dan karena itu merupakan sistem.:Berbagai bentuk satuan pendidikan seperti SMP Terbuka, Program KEJAR Paket A,B dan C, Universitas Terbuka dll. Merupakan penerapan teknologi pendidikan secara makro.

            Proses pembelajaran seperti yang ditetapkan dengan ketentuan kebijakan (PP No. 19 Tahun 2005 dan Permendiknas No. 41 Tahun 2007), pada hakekatnya merupakan bentuk penerapan teknologi pendidikan. Istilag “teknologi pendidikan” memang tidak digunakan atau tidak tampak, karena memang salah satu kriteria teknologi pendidikan adalah “integratif”. Ragi yang digunakan dalam pembuatan roti misalnya, tidak akan tampak setelah roti itu masak karena sudah terintegrasi dalam adonan yang dipanggang.

Pembelajaran aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa  sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar harus merupakan suatu proses aktif dari siswa dalam membangun pengetahuannya, bukan hanya proses pasif yang hanya menerima penjelasan dari guru tentang pengetahuan. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Vygotsky bahwa  ada keterkaitan antara bahasa dan pikiran.[9] Dengan aktif berbicara (diskusi) siswa lebih mengerti konsep atau materi yang dipelajari. Siswa perlu keterlibatan fisik untuk mencegah mereka dari kelelahan dan kebosanan. Siswa yang lebih banyak duduk diam akan menghambat perkembangan motorik, akademik, dan kreativitasnya. Melalui belajar aktif segala potensi siswa dapat berkembang secara optimal dan memberikan peluang siswa untuk aktif berbuat sesuatu sambil sambil mempelajari berbagai pengetahuan. Oleh karena itu, proses belajar harus melibatkan semua aspek kepribadian manusia, yaitu mulai dari aspek yang berhubungan dengan pikiran, perasaan, bahasa tubuh, pengetahuan, sikap, dan keyakinan.

Pada proses pembelajaran interaktif, perlu diusahakan adanya hubungan timbal balik antara guru dan siswa dan antar siswa sendiri. Proses pembelajaran inspiratif yang diselenggarakan hendaknya dapat mendorong  semangat untuk belajar dan timbulnya inspirasi pada peserta didik untuk memunculkan ide baru, mengembangkan inisiatif dan kreativitas.  Pendidik perlu berusaha menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan, menjadikan siswa merasa nyaman, betah, dan asyik untuk mengikutinya. Proses pembelajaran juga diusahakan agar dapat mengarahkan siswa untuk mencari pemecahan masalah, mengembangkan semangat tidak mudah menyerah, melakukan percobaan untuk menjawab keingintahuannya. Proses pembelajaran harus dapat memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif, guru perlu mendorong siswa untuk terlibat dalam setiap peristiwa belajar yang sedang dilakukan. Guru juga harus memberikan ruang lingkup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai bakat, minat, dan perkembangan fisik dan psikologis peserta didik.

Selanjutnya, pembelajaran kreatif artinya memiliki daya cipta, memiliki  kemampuan untuk berkreasi. Peran aktif siswa dalam proses pembelajaran akan menghasilkan generasi yang kreatif, artinya generasi yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain.[10] Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan-kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menurut Semiawan, kreativitas adalah suatu kondisi, sikap, atau keadaan yang sangat khusus sifatnya dan hampir tak mungkin dirumuskan secara tuntas.[11] daya kreatif tumbuh dalam diri seseorang dan merupakan pengalaman yang paling mendalam dan unik bagi seseorang. Untuk menimbulkan daya kreatif tersebut diperlukan suasana yang kondusif yang menggambarkan kemungkinan tumbuhnya daya tersebut. Suasana  kondusif yang dimaksud adalah suasana belajar yang memberi kesempatan siswa untuk terlibat secara aktif dan memberi kesempatan pada siswa untuk dapat mengemukakan gagasan dan ide tanpa takut disalahkan oleh guru.

Adapun pembelajaran yang efektif terujud karena pembelajaran yang dilaksanakan dapat menumbuhkan daya kreatif bagi siswa sehingga dapat membekali siswa dengan berbagai kemampuan. Setelah proses pembelajaran berlangsung, kemampuan yang diperoleh siswa tidak hanya berupa pengetahuan yang bersifat verbalisme namun dharapkan berupa kemampuan yang lebih bermakna. Artinya pembelajaran dapat mengembangkan berbagai potensi yang ada dalam diri siswa sehingga menghasilkan kemampuan yang beragam.

Belajar yang efektif dapat dicapai dengan tindakan nyata (learning by doing) dan untuk siswa kelas rendah SD dapat dikemas dengan bermain. Bermain dan bereksplorasi dapat membantu perkembangan otak, berbahasa, bernalar, dan bersosialisasi.  Pembelajaran yang menyenangkan memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya tinggi. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif yang tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa selama proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tidak ubahnya seperti bermain biasa. Kelas yang sunyi, anak sebagai pendengar pasif, tidak ada aktivitas konkret, membosankan dan belajar tidak efektif menyebabkan tidak kritis, tidak kreatif, komunikasi buruk, dan apatis.

Berdasarkan uraian di atas dapat dideskripsikan bahwa penerapan teknologi pendidikan dalam proses pembelajaran berlangsung secara aktif, interaktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM), siswa terlibat dalam berbagai bentuk kegiatan belajar dan pembelajarabn yang dapat mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka melalui berbuat atau melakukan dan mencipta. Dalam pembelajaran tersebut, guru menggunakan berbagai teknik dan sumber belajar.

 

Purnakata

            Implementasi teknologi pendidikan dalam rangka meningkatkan kualifikasi guru telah, sedang, dan akan terus dikembangkan. Ke enam kriteria teknologi pendidikan isomeristik, sitemik, sinergistik, sistematik, inovatif dan integratif telah mulai terwujut dalam sistem pendidikan nasional, dimana guru merupakan unsur strategik dalam usaha peningkatan mutu sistem pendidikan tersebut.

Dalam dunia pendidikan teknologi sebagai proses, produk dan sistem yang dikembangkan untuk mengatasi masalah pendidikan, yaitu masalah mutu, pemerataan, relevansi, efisiensi dan produktivitas, telah dikembangkan sebagai suatu disiplin keilmuan khusus. Teknologi pendidikan dikembangkan dengan dua dasar pertimbangan. Pertama, karena masalah pendidikan yang ada (mutu, pemerataan, relevansi, efisiensi dan produktivitas) tidak dapat dipecahkan dengan pendekatan yang sudah ada (seperti menambah guru, menambah buku, menambah sekolah dll.). Oleh karena itu diperlukan pendekatan baru. Kedua, perkembangan lingkungan, termasuk perkembangan politik (demokrasi, desentralisasi, HAM dll), perkembangan lingkungan alam dan ekonomi (pasar bebas, pelestarian alam dsb.), dan perkembangan teknologi (terutama TIK) akan sangat mempengaruhi dunia pendidikan. Oleh karena itu diperlukan suatu pendekatan baru yang mengambil manfaat dari perkembangan yang ada.

Teknologi pendidikan dapat pula dikatakan sebagai perkembangan yang logis dan rasional dari apa yang semula disebut dengan ”didaktik & metodik pengajaran” yang dilaksanakan pada jalur pendidikan formal jenjang dasar dan menengah. Didaktik & metodik hanya merupakan sebagian dari proses belajar – pembelajaran. Proses pembelajaran yang dikembangkan dalam Teknologi Pendidikan, tidak hanya PAKEM melainkan PAIKEM dan PAINO (Pembelajaran Aktif, Interaktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan, dan Pembelajaran Atraktif, dan Inovatif).

Produk  untuk pembelajaran yang semula hasil kreasi guru sendiri, perlu dikembangkan lebih lanjut sebagai bentuk dukungan untuk belajar (bukan untuk mengajar). Progam televisi, radio, PBK (pembelajaran berbantuan komputer) dll. perlu disediakan dalam berbagai bentuk untuk dapat diakses oleh peserta didik kapan saja, dimana saja di kelas maupu secara mandiri. Sistem pembelajaranpun dikembangkan di luar lingkungan sekolah konvensional, seperti misalnya pendidikan terbuka (SMP/MTs Terbuka, SMU Terbuka, Universitas Terbuka, Kejar Paket A, B dan C, Pendidikan di Rumah (homeschooling), dan BEBAS (Belajar Berbasis Aneka Sumber).

Teknologi pendidikan mempunyai visi : ”Terwujudnya berbagai pola pendidikan dan pembelajaran dengan dikembangkan dan dimanfaatkannya aneka sumber, proses dan sistem belajar, sesuai dengan kebutuhan dan potensi setiap pemelajar, menuju terbentuknya masyarakat belajar dan berpengetahuan.”

Apabila para guru bertekad untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan meningkatkan kompetensinya dalam pembelajaran, maka sudah seyogyanya mereka memahami dan mewujudkan peran teknologi pendidikan.

Daftar Pustaka

Anon. Standar Nasional Pendidikan (SNP) (Jakarta: Asa Mandiri, 2006)

Cowell, Richard N. Buku Pegangan Para Penulis Paket Belajar. Jakarta: Proyek

Pengembangan Pendidikan Tenaga Kependidikan, Depdikbud, 1988.

Elliot,  Andrew J. and Carol S. Dweck.  Handbook of Competence and Motivation.  New

York: The Gulford Press, 2005.

Ibrahim, Buddy. TQM (Total Quality Management): Panduan Untuk Menghadapi

Persaingan Global. Jakarta: Djambatan, 2000.

Jenkins, L. Improving Student Learning: Applying Deming Quality Principles in Education. Milwakee,WI: ASQO Press. !996

Lefrancois, Guy R.  Theories of Human Learning.  Kro: Kros Report, 1995.

Miarso,Yusufhadi. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Pustekkom & Kencana. 2005

Rychen, Dominique Simon.  Key Competencies.  New York: Mc Graw Hill, 2002.

Semiawan, Conny R.    Dimensi  Kreatif  dalam  Filsafat  Ilmu.  Bandung: PT Remaja

Rosdakarya, 1999.

Silberman, Mel.  Active Learning: Strategies to Teach Any Subject.  Boston: Allyn and Bacon, 1996.

Usman, Uzer. Menjadi Guru Profesional.  Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1990.

Vygotsky, L.S.   Thought  and  Languge.  Cambridge,  MA:  Harvard  University  Press, 1962.

 


[1] Miarso, Y. (2004). Miarso, Y. (2004).  Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Pustekkom Diknas & Kencana, hal. 561.

 

[2] Buddy Ibrahim. TQM (Total Quality Management): Panduan Untuk Menghadapi Persaingan Global. Jakarta: Djambatan, 2000, pp. 6-10.

[3]Guy R. Lefrancois,  Theories of Human Learning  (Kro: Kros Report, 1995), p. 5.

[4]Dominique Simon Rychen,  Key Competencies  (New York: Mc Graw Hill, 2002), p. 121.

[5]Andrew J. Elliot and Carol S. Dweck,  Handbook of Competence and Motivation  (New York: The Gulford Press, 2005), pp. 128.

[6]Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional  (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1990), p. 111.

[7]Richard N. Cowell, Buku Pegangan Para Penulis Paket Belajar (Jakarta: Proyek Pengembangan Pendidikan Tenaga Kependidikan, Depdikbud, 1988), pp. 95-99.

[8]Ibid., p. 101.

[9]Vygotsky, L.S.,   Thought  and  Languge  (Cambridge,  MA:  Harvard  University  Press, 1962), p. 58.

[10]Mel Silberman,  Active Learning: Strategies to Teach Any Subject  (Boston: Allyn and Bacon, 1996), p. 1.

[11]Conny R. Semiawan,    Dimensi  Kreatif  dalam  Filsafat  Ilmu   (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1999), p. 60.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s