TANGGUNG JAWAB PENGETAHUAN: MEMPERTIMBANGKAN EFISTIMOLOGI SECARA KULTURAL

 
 

BAB I MENGUAK TABIR PERMASALAHAN EFISTIMOLOGI

 

Dalam bab ini penulis membicarakan gambaran awal yang menguak tabir permasalahan si seputar perkembangan efistimologi. Intinya adalah ingin memperlihatkan bahwa perkembangan efistimologi lebih merupakan sebuah pertualangan “berdarah” yang diwarnai oleh suasana egoism, arogansi, serta krisis cultural yang meliputi hampir seluruh segi kehidupan manusia.  Makna dari pertulangan berdarah dalam sub ini  pertentangan aliran tentang menentukan pokok persoalan utama tentang kreteria kebenaran, cara mendapatkan kebenaranserta menentukan validitas pengetahuan.

Dalam bagian ini juga menjelaskan konsep Efistimologi, cultural dan manusia. Dalam mengungkapkan konsep ini ada beberapa filosof Modern dan Kontempore seperti Thomas S. Kuhn (1993), Kees Bertens (1983 dan 1985), Heidegger (1889-1976), Descartes mereka mempunyai konsep tersendiri antara satu dengan lainnya punya landasan dan argument yang berbeda. Di akhir bab  ini penulis membicakan konsep Ontologi. Dalam konsep ini dibicarakan  tentang “Apa itu ada dalam diri manusia sendiri, Apa hakekat ada sebagai ada”.

 

BAB II PERGOLAKAN KULTURAL DALAM SEJARAH EFISTIMOLOGI

Dalam bab ini mengambarkan gelombang-gelombang pergolakan kultural yang terjadi dalam sejarah perkembangan efistimologi. Suasana pergolakan historis tersebut  akhirnya telah melahirkan kedaran dalam gerakan-gerakan pemikiran baru yang membentuk aliran-aliran efistimologi kontemporer dengan tema-tema kemanusiaan  sebagai titik sentralnya. Kesdaran akan tanggung jawab kultural telah begitu kuat dalam sejarah tradisi pemikiran di dunia timur, namun hal ini terabaikan. Dengannya dapat dilihat bahwa ada tanggung jawab tanggung jawab kultural yang harus di emban dalam pengembangan efistimologi. Melalui ini kemudian di tetapkan langkah-langkahh pemecahan di kembangkan pada bab-bab berikutnya.

  • Dalam bab ini penulis membicarakan gambaran awal yang menguak tabir permasalahan si seputar perkembangan efistimologi.
  • Intinya adalah ingin memperlihatkan bahwa perkembangan efistimologi lebih merupakan sebuah pertualangan “berdarah” yang diwarnai oleh suasana egoism, arogansi, serta krisis cultural yang meliputi hampir seluruh segi kehidupan manusia.
  • Makna dari pertulangan berdarah dalam sub ini  pertentangan aliran tentang menentukan pokok persoalan utama tentang kreteria kebenaran, cara mendapatkan kebenaranserta menentukan validitas pengetahuan.

Dalam bagian ini juga menjelaskan konsep Efistimologi, cultural dan manusia. Dalam mengungkapkan konsep ini ada beberapa filosof Modern dan Kontemporer seperti

  •       Thomas S. Kuhn (1993),
  •       Kees Bertens (1983 dan 1985),
  •       Heidegger (1889-1976),
  •       Descartes

Mereka mempunyai konsep tersendiri antara satu dengan lainnya punya landasan dan argument yang berbeda.

Di akhir bab  ini penulis membicakan konsep Ontologi. Dalam konsep ini dibicarakan  tentang

  •       Apa itu ada dalam diri manusia sendiri,
  •       Apa hakekat ada sebagai ada”.

Dalam Bab II ini membicakan Sejarah Efistimologi :

  1. Sejarah Efistimologi Timur dan Barat
  2. Pergolakan Kultural dalam tradisi Epistimologi Timur seperti Konfusianisme, Taoisme, Buddhisme
  3. Pergolakan-pergolakan Kultural dalam sejarah perkembangan Efistimologi Barat
    1. Periode Zaman abad Yunani Kuno : Zaman pra-Sokrates,  Zaman Sokrates, Plato dan Aristoteles
    2. Periode Zaman Abad Pertengahan Eropa : Zaman Patristik, Skolistik dan zaman kejaan skolistik.
    3. Zaman Abad Modern Awal
    4. Zaman Abad Modern Tengah : Immanuel Kant, Georg Wilhelm Fridrich Hegel
    5. Zaman Modern Akhir : Positivisme, Psikologisme, sosiologisme, Determinisme, Marxisme Dll.
  1. Zaman Sebelum Abad Modern
  1. Zaman Abad Modern Eropa

.   Zaman Abad Pascamodern atau Zaman Kontemporer (abad XX)

  1. Periode Sebelum Perang Dunia II
  2. Periode Sesudah Perang Dunia II : Fenomenologi, Eksistensialisme, personalisme, Pragmatisme dan lain-lain

 

BAB III  CIRI PENGEMBANGAN EFISTIMOLOGI

Dalam bagian ini lebih merupakan sebuah konstruksi teoritis (dengan spesifikasi yang berbeda) dalam rangka membangun sebuah model konsepsial sebagai upaya pemecahan efistimologiis terhadap permasalahan-permasalahan yang melekat pada dirinya. Dan pada bagian ini lebih memberikan sebuah gambaran khusus  bagaimana ciri pengembangan efistimologi. Inti pemikirannya adalah bahwa pengembangan efistimologi berkaitan langsung dengan system nilai dan asas penilaian yang berhubungan dengan diri dan kehidupan manusia. Karena, ciri pengembangan efistimologi mesti dikembalikan pada kesegaran pengalaman eksistensial manusia.

Ciri tersebut menunjukkan  bahwa efistimologi harus selalu bersikap kritis untuk menguji dirinya serta untuk mengembangkan pada tempatnya atau pada jalur yang sebenarnya. Ciri tersebut sekaligus menunjukkan bahwa efistimologi bukanlah sebuah sekedar sebuah usaha  menjejerkan ide-ide  dalam berbagai rumusan dogmatis yang statis, tetapi lebih merupakan suatu keprihatinan eksistensial. Oleh karenanya, ia harus berada dalam proses pengujian,  “perombakan”, dan pemurnian secara terus menerus. Melalui ini otonomi keilmuan dapat disuburkan  dalam rangka penciptaan iklim konvergensi dalam aliran-aliran efistimologi.

  1. Pengetahuan Sebagai Bagian dari “Cara Berada” Manusia
  1. Persoalan –persoalan pokok dalam pengembangan efistimologi

Filsafat Pengetahuan (Epistimologi) suatu filsafat yang kritis terhadap pengetahuan sendiri. Filsafat ini tidak mau menerima begitu saja anggapan bahwa semua orang dapat tahu tanpa menguji secara kritis asfek-asfek dasar yang melandasi suatu pengandaian  yang memadai mengenai adanya pengetahuan tersebut.

  1. Landasan Ontologi dan aksiologi dalam rangka pengembangan efistimologi

Pengetahuan apapun bentuknya dan jenisnya selalu mendasarkan dirinya pada dua landasan pokok, selain landasan efistimologi itu sendiri. Pertama, landasan ontology yang mengkaji hal-hal mengenai “apa” yang mengandaikan adanya pengetahuan itu. Kedua landasan aksiologi, yang mengenai “untuk apa pengetahuan itu diusahakan.

  1. Hubungan Dialektis antara Efistimologi dan Kebudayaan

Berbicara mengenai epistimologi adalah berbicara tentang pengetahuan manusia. Disamping itu membicarakan mengenai kebudayaan  membicarakan masalah itu sendiri.

    Jati diri manusia dalam Pengembangan Efistimologi

  1. Jati diri manusia sebagai landasan pengembangan efistimologi
  2.  Jati diri manusia sebagai “Penganda Aktual” dalam rangka pengembangan efistimologi
  3.  Jati diri manusia sebagai kesatuan subyek dalam rangka pengembangan efistimologi

D. Komleksitas Pengetahuan Manusia dalam pengembangan Efistimologi

  1. Kegiatan subjek-subjek dalam pengembangan Efistimologi

Setiap percobaan untuk mendifinisikan penetahuan haruslah didasarkan pada pengakuan bahwa subyek hanya baru berhasil memasuki secara progresif misteri pengetahuan itu

  1. Syarat-syarat pengetahuan dan jangkauannya dalam rangka pengembangan efistimologi.

Pengetahuan sebagai cara berada  manusia merupakan suatu adaptasi akumultif yang sangat terbuka dan dinamis. Pengetahuan  sebagai cara berada manusia terbuka bagi masa depan karena juga terbuka bagi masa sekarang.

E. Cara Mempelajari Kompleksitas Pengetahuan Manusia

  1. Kesulitan mempelajari kompleksitas pengetahuan manusia

Usaha mempelajari pengetahuan manusia dengan sifat jangkauannya yang terbuka dan komplek, jelas bukan merupakan usaha tanfa kesulitan. Kesulitan pertama adalah mengobjektivasikan pengetahuan manusia untuk dapat meraih dan memahami kodrat dengan dengan teliti, serta mengungkapkan secara tepat

  1. Pengetahuan sebagai kemanunggalan subyek-subyek

F. Sumber-sumber Pengetahuan

  1. Pengetahuan Indrawi

Pengetahuan indra yang dimiliki manusia  diperoleh oleh kemampuan indranya, namun selalu bersifat ralasional.

  1. Pengetahuan Intelektual

Pengetahuan menurut akal budi merupakan suatu kesatuan dengan pengetahuan yang merupakan suatu kesatuan  dengan pengetahuan yang di peroleh lewat indra.

G. Sifat Progresif Pengetahuan

  1. Keterbatasan pengetahuan dan sifat perkembangan
  2. Spesialisasi dalam efistimologi
  3. Hakekat kebenaran dan kepastian dalam pengembangan efistimologi

F. Sumber-sumber Pengetahuan

  1. Pengetahuan Indrawi
  2. Pengetahuan Intelektual

G. Sifat Progresif Pengetahuan

  1. Keterbatasan pengetahuan dan sifat perkembangan
  2. Spesialisasi dalam efistimologi
  3. Hakekat kebenaran dan kepastian dalam pengembangan efistimologi

H. Peranan Afektif dalam Pengembangan    Efistimologi

  1.   Kehendak dan Kebebasan Manusia

J. Pentingnya Efistimologi dalam Rangka Pemecahan permasalahan-permasalahan kultural


BAB IVPRINSIP PRINSIP KULTURAL DALAM PENGEM BANGAN  EPISTEMOLOGI

Pada bagian ini menunjukkan bahwa ini menunjukkan bahwa pemecahan efistimologis  menisyarakan adanya prinsip-prinsip kultural  yang secara khusus harus diperhatikan dalam pengembangan efistimologi, yaitu prinsip humanitas, holistic, tanggung jawab professional, dan kontektualisasi. Melalui ini orang tidak hanya akan bersikap terbuka pada seluruh realitas, tetapi juga terbuka pada suara hatinya dalam kesadran tanggung jawab kulturalnya karena dari situlah ia bermartabat.

  1. A.    Prinsip Humanistik

Prinsip humanistic menekankan bahwa manusia memiliki kedudukan sentral dalam rangka pengembangan efistimologi. Segala usaha dalam rangka pengembangan efistimologi harus dapat dikembalikan kepada manusia. Prinsip ini menegaskan bahwa pengetahuan merupakan realisasi kemampuan-kemampuan kodrati manusia di bawah roh intelektualnya. Tujuan pokoknya adalah untuk mewujudkan  citra keagungan manusia sebagai makhluk yang berkodrat dan berbudaya.

Prinsip Humanitas menegaskan dinamika perelasian efistimologi harus bersipat proses belajar yang terbuka menuju kepada tahap pendewasaan diri yang lebih memadai. Aristoteles menempatka manusia sebagai causa efficiens sejak awal bagi pengetahuannya. Menurutnya hakekat keagungan manusia terletak pada keangungn pikirannya di dalam keutuhan keberadaannya.

B. Prinsip Holistik

Prinsip ini menekankan bahwa manusia sekaligu ada dan tidak ada bagi pengalamnnya sendiri. Ketidak cocokan antara eksistensi manusia dengan dirinya sendiri merupakan bukti dari keterbatasan  dan  temporalitas yang juga tampak dalam ketidakcocokan antara pengetahuan dan dirinya sendiri. Perkembangan efistimologi membutuhkan suatu prinsip pendekatan  yang bersifat menyeluruh holistic.

  1. C.    Prinsip Tanggung Jawab

Prinsip ini menunjukkan bahwa tahap tertinggi dari pengembangan efistimologi adalah ketika manusia menyadari bahwa ia seyogyanya harus mengontrol pirannya dan seluruh aktifitas keilmuannya  secara bertanggung jawab. Menurut Van Melsen tanggung jawab adalah Subyek yang menyebabkan sesuatu itu dapat di terima penjelasannya, tetapi juga harus menjawab. Ia menjawab permasalahan yang terjadi di masyarakat, walaupun permasalahan itu tidak disebaban oleh  ilmuan itu sendiri.

  1. Bipolaritas Kesadaran
  2. Analogi Pengetahuan

       a. Sifat Analog dalam Pengetahuan

       b. Ciri Ciri Analogi dalam Pengetahuan

       c.  Analog Pengetahuan Menegaskan

            Sikap Keterbukaan & Kepastian bebas

  1. Perlunya Kerja Sama
  2. Keutuhan Pengetahuan Manusia
  3. Hakikat Tanggung Jawab dalam Rangka Pengembangan Epistemologi
  4. Sikap Tanpa Pamrih  sebagai  Bagian  dalam Tanggi

7. Tanggung Jawab Sosial dalam Rangka Pengembangan Epistemologi

8.  Pentingnya Kesadaran Etis dalam Pengembangan Epistemologi

9.  Profesionalisme dan Integritas Kepribadian

10.  Integritas Religius

D. Prinsip Kontekstualisasi  

Prinsip Kontekstualisasi mengandung arti bahwa kondisi budaya masyarakat dapat memberikan dorongan atau pengaruh bagi pengembangan efistimologi. Prinsip konstektualisasi hendak menekankan bahwa pengetahuan yang dalam asfek dinamisnya merupakan imajinasi kreatif manusia sebagai masyarakat adalah proses kultural tertentu berakar pada kebudayaan bangsa.

Alasan yang mendoron adanya kontekstualisasi

  1. Era Globalisasi
  2. Pergolakan kontektual
  3. Dinamika efistimologi

Pengembangan kebudayaan nasional meneempatkan  Efistimologi pada dua peranan yang sangat penting

  1. Efistimologi merupakan sumber nilai yang mendukung terselenggaranya pengembangan kebudayaan nasional
  2. Efistmologi merupak sumber nilai yan mengisi pembentukan watak bangsa

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s